Tampilkan postingan dengan label Sastra Aksara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sastra Aksara. Tampilkan semua postingan

Kamis, 04 Juli 2019

Pucuk Cemara



Dalam doaku subuh ini kau menjelma langit yg semalaman tak memejamkan mata, yang meluas bening siap menerima cahaya pertama, yang melengkung hening karena akan menerima suara-suara. 

Ketika matahari mengambang tenang di atas kepala, dalam doaku kau menjelma pucuk-pucuk cemara yang hijau senantiasa, yang tak henti-hentinya mengajukan pertanyaan muskil kepada angin yang mendesau entah dari mana.

Kamis, 14 Januari 2016

Kami Muak dan Bosan


(Oleh Taufik Ismail)

Dahulu di abad-abad yang silam Negeri ini pendulunya begitu ras serasi dalam kedamaian Alamnya indah, gunung dan sungainya rukun berdampingan, pemimpinnya jujur dan ikhlas memperjuangkan kemerdekaan Ciri utama yang tampak adalah kesederhanaan Hubungan kemanusiaanya adalah kesantunan Dan kesetiakawanan Semuanya ini fondasinya adalah Keimanan Tapi, Kini negeri ini berubah jadi negeri copet, maling dan rampok, Bandit, makelar, pemeras, pencoleng, dan penipu Negeri penyogok dan koruptor, Negeri yang banyak omong, Penuh fitnah kotor Begitu banyak pembohong Tanpa malu mengaku berdemokrasi Padahal dibenak mereka mutlak dominasi uang dan materi Tukang dusta, jago intrik dan ingkar janji Kini Mobil, tanah, deposito, dinasti, relasi dan kepangkatan, Politik ideologi dan kekuasaan disembah sebagai Tuhan Ketika dominasi materi menggantikan tuhan Kini Negeri kita penuh dengan wong edan, gendeng, dan sinting Negeri padat, jelma, gelo, garelo, kurang ilo, manusia gila kronis, motologis, secara klinis nyaris sempurna, infausta Jika penjahat-penjahat ini Dibawa didepan meja pengadilan Apa betul mereka akan mendapat sebenar-benar hukuman Atau sandiwara tipu-tipuan terus-terus diulang dimainkan Divonis juga tapi diringan-ringankan Bahkan berpuluh-puluh dibebaskan Lantas yang berhasil mengelak dari pengadilan Lari keluar negeri dibiarkan Dan semuanya itu tergantung pada besar kecilnya uang sogokan Di Republik Rakyat Cina, Koruptor Dipotong kepala Di kerajaan arab saudi, Koruptor Dipotong tangan Di Indonesia, Koruptor Dipotong masa tahanan Kemudian berhanyutanlah nilai-nilai luhur luar biasa tingginya Nilai Keimanan, kejujuran, rasa malu, kerja keras, tenggang rasa, pengorbanan, Tanggung jawab, ketertiban, pengendalian diri, Remuk berkeping-keping Akhlak bangsa remuk berkeping-keping Dari barat sampai ke timur Berjajar dusta-dusta itulah kini Indonesia Sogok Menyogok menjadi satu, Itulah tanah air kita Indonesia Kami muak dan bosan Muak dan bosan Kami Sudah lama Kehilangan kepercayaan

Rabu, 31 Desember 2014

Mereka Merindu

           
           Detik berdetak seiring perasaan rindu menumbuh
           Hari berganti seraya hasrat bertemu memuncak
           Tapi semesta belum satukan mereka berdua
           Mereka hanya disajikan untuk duduk menatap
           Menatap bersama satu senja, meski berjauhan

“Kita masih melihat bulan yang sama kan ?”
Kata yang selalu mereka selipkan di percakapan kecil itu.
Percakapan kerinduan
Begitu banyak benih kerinduan diantara mereka
Apakah ini terlalu dini untuk menyebutkan bahwa itu awal dari cinta ?

           Dalam percakapan itu, mereka berkilah
           Berkilah bahwa dibawah satu langit dan bulan yg sama kan mampu menutupi
           Menutup rasa rindu
           Namun alam pun tak pernah mengiyakan
           Perasaan itu terus ada dan ada
           Pepatah kuno mengatakan, cinta melahirkan rindu, bila tidak rindu maka tak cinta
           Setiap dari mereka kini terngiang tanya dan malu

Rindu karena cinta ?
Atau cinta jadi rindu ?
Sebab akibat ini yang menimbulkan tanya

           Bagi mereka kalimat itu bukanlah penting
           Tak penting karena apa dan bagaimana bisa
           Mereka tak dapat membohongi perasaan satu sama lain
           Atau mungkin mereka saling mencintai
           Bersama kerinduan tiada berhilir
           Dari terang pagi hingga sunyi malam

Entah sampai waktunya tiba
Biarlah kerinduan ini hanya teruntuk dia yang memang pantas untuk dirindukan, ucap mereka
Bersama dinginnya malam, angin membawa pesan singkatnya
Sebuah pesan yang bertuliskan sajak cinta dua insan

           Rindu seiring nafas mereka
           Kerinduan yang tertanam dalam sanubari
           Rindu menjelma dalam sajak-sajak mendayu diantara mereka
           Mereka tak hirau dingin ketika itu, karena ada rasa yg menghangatkan

Dari rembulan malam hingga terang mentari mereka bercakap melepaskan perasaan itu
Seraya bermunajat akan kisah mereka, akan rasa yg datang dan sulit pergi
Akan sosok yg selama ini didamba, akan masa-masa setelah malam dingin ini

           Ini sajak rindu
           Mereka sebut ini komunikasi verbal hati
           Yang akan terus menunggu sampai tiba pertemuan itu
           Pertemuan yang terlalu lama tuk ditunggu
           Saat mereka tersipu malu
           Tersipu dengan pipi merah, karena telah lama tak melihat paras dia
           Dia si pembuat rindu

Rabu, 26 November 2014

Refleksi Doa pada Aksara

Pukul 05:37
Aku berada dibagian paling atas bangunan ini.
Kurasakan dingin
Pagi yang menerbangkan embun-embun putih
Kulihat fajar
Yang dengan anggun memancarkan rona kemerahan
Kuhirup udara
Pepohonan yang menari lembut yang mengeluarkan aroma asri
Kunikmati semua yang tersaji oleh semesta yang terasa oleh diri

         Aku hidup dalam sejuta kenikmatan
         Aku berdiri diatas kebahagian yang dunia tawarkan
         Aku dijamin tumbuh bersama fasilitas Tuhan

Pagi ini doa baik ku munajatkan
Setelah semalam kepenuhi relung pikirku dengan teori dan konsep
Setelah malam hingga pagi kuhabiskan untuk hafalkan sintesa
Setelah mataku lelah melihat ratusan skema
Setelah pikirku penat karena filosofi dan ilmu
Berharap Sang Maha Pendengar mengijabah doa hambanya yang hina
Berikanku kemudahan saat duduk tegang pada bangku usang kelas

Amin

Jumat, 17 Oktober 2014

Mahasiswa Antitesa (Ruang Kelas)

Kini aku menggenggam pulpen
Sembari mengukir kata
Dari keadaan ruang dan waktu saat ini
Aku ingin deskripsikan
Sebuah kondisi ruang kelas
Ruang yang katanya berjuta ilmu beterbangan disini
Yang kini tengah dimuat oleh dinginya udara

Minggu, 13 Juli 2014

Aku Berkicau

Oleh: Rozy Ahimsyah Pratama
Saat senja,
Aku bersuara

                    Wahai semesta …
                    Aku ingin bercerita
                    Menceritakan yang selama ini terbenam dalam jiwa
                    Jiwa yang sering termenung dalam kesah
                    Jiwa yang sering tersenyum dalam ceria
                    Maka dengarlah!

Wahai dunia …
Aku ingin bercakap
Bercakap tentang eloknya hidup ini
Hidup yang penuh dengan lubang tantangan
Hidup yang penuh dengan indahnya perjuangan
Maka dengarlah !

                    Wahai adinda …
                    Aku ingin berkata
                    Menyatakan semua tentangku padamu
                    Padamu dimana aku menjadi bayang
                    Padamu dimana perasaanku telah matang
                    Maka dengarlah !

Wahai Tuhan …
Aku ingin bermunajat
Memunajatkan apa yang ingin dipinta dalam sanubari
Sanubari yang selalu terlena nikmat duniawi
Sanubari yang selalu ingin dekat pada sang pengasih
Maka ijabahlah !


Senandung Pada Mendung

Oleh: Rozy Ahimsyah Pratama

Sang surya bersembunyi dibalik awan kelam
Udara dingin kian merasuk tulang
Ini permainan alam
Membuat alam semakin gilang

Nyamannya mata ketika memandang
Memandang eloknya daun bergoyang
Ditemani sejuk angin berhembus
Sayu pun terhapus

Kicauan burung berseri-seri
Yang singgah pada pohon yang menari
Sebagian insane inginkan ini

Aku menatap langit membawa asa
Asa penuh pesona

Aku berharap terbang kesana
Sembari berdoa untuk kita

Meski ku pahami ini fatamorgana
Meski ku sadari ini maya
Ingin rasanya terus bahagia

Sabtu, 12 Juli 2014

PEMUDA

Oleh: Rozy Ahimsyah Pratama

Wahai pemuda  bangsa
Bangun dan bangkit
Buka matamu
Lihat tanah ibu
Tanah ibu pertiwi

Kini tanah kita terinvasi
Bukan karena asing atau koloni
Tapi saudara pribumi
Asli dalam negeri

Mereka penuh dusta nan cerdik
Mereka pandai namun licik
Tatanan negeri mereka obrak-abrik

Bangun kawan
Jadilah mentari pagi
Keluar dari jeratan leka dan malas
Jadilah bak perwira
Perwira di bumi pertiwi
Demi teman, sahabat, dan keluargamu

Demi negeri mu, demi bangsa mu, demi Indonesia.


Aku, Kau, dan Kontradiksi


   Oleh: Rozy Ahimsyah Pratama


    Kau oase ditengah gurun 
    Kau madu dalam racun
    Kau cahaya dikala gulita
    Kau suara dalam kata     

Kau syahdu dalam kebisingan
Kau logika yang membodohkan
Kau rasi kebenaran dalam kebingungan
Kau pelangi yang menghapus kelamnya awan

    Aku terbakar dalam dinginnya lakumu
    Aku membeku dalam hangatnya senyummu
    Aku pecundang namun pemenang
    Pemenang atas mu kelak, karena hatimu kan ku sandang

Dirimu kebahagian ku penawar pilu
Kendati kau duga ini rancu

Semua ini yang ku mau

DIA

Oleh: Rozy Ahimsyah Pratama

Terang mentari menyusuri tiap jengkal tanah
Bunga mawar masih merekah
Pun langit masih biru
Hilanglah semua pilu

    Namun aku mendiam
    Terlamun dan teringat
    Gadis yang selalu memikat
    Yang  indah dalam rasa hasrat
    Terpesonalah yang menjadi akibat

Pekat hitam rambut panjangnya
Menyusuri mimik wajah indahnya
Sumringah senyumnya
Melekat padu pada parasnya
Tatapan tajam mata eloknya
Gila aku jadinya

    Aku terbuai dalam gelora khayalan
    Dan meminta Tuhan tuk menyatukan
    Seraya aku berusaha wujudkan
    Demi bahagia, tatkala dimasa depan
    Demi dia
    Hanya dia

Jumat, 11 Juli 2014

Hati dan Puisi

Oleh: Rozy Ahimsyah Pratama

Kicauan pipit bersenandung
Ayam pun berkokok
Aksara kini mulai terangkai
Hendak melukiskan suasana hati

                  Pernah gulita menjadi teman
                  Pernah diam menjadi kawan
                  Aku tenggelam dalam bosan
                  Tak tau bagaimana diri menyampaikan pesan

Mampu ku hanya menulis
Bisaku hanya berandai
Tak peduli apakah tersampai

                  Pulpen tegak dalam genggaman
                  Kertas putih tergores tinta
                  Tinta yang menggambar kata
                  Kata pun mulai terangkai dalam sajak
                  Sajak berkombinasi menjadi puisi

                  Itulah iklim hati diri ini, puisi.

Dungunya Aku

Oleh: Rozy Ahimsyah Pratama

Aku terbelenggu dalam lamunan
Dihembus desiran angin jelang hujan
Terbayang bagaimana tentang kita akan
Mungkinkah kita berpadu dimasa depan

Aku tahu
Mungkin kau tak pernah inginkan ku
Aku tahu
Mungkin salahku inginkan mu
Aku tahu
Dan selalu tahu

Andai dirimu tahu
Gelora rasa ini tak pernah padam dalam sanubari
Kau kan selalu ada dalam naluriku
Batin senantiasa tersiksa karena rindu
Relakan kau sendiri kini, dungunya aku


Ingin Ku

Oleh: Rozy Ahimsyah Pratama

Kala sore dingin
Aku melepaskan semua aksara dalam tulisan
Tulisan tentang yang aku ingin
Yang tak pernah terucap oleh lisan

Kutatap langit-langit
Cuma satu hal terbesit
Masa depan inginku bersamamu
Yang aku yakin itu walau semu

Tiap waktu pertanyaan tentangmu kian timbul dalam fikir
Tiap waktu dalam malamku ku habiskan dengan memandangmu
Memandang dari berkas memoriku tentang kamu
Tentang kita, yang inginku mendekat


Perasaan yang dipendam ini
Selalu merisih hati dan diri
Ku tak berani ungkapkan ini
Itu yang aku sadari kini

Kamu yang terpatri dalam sanubari
Yang selalu membelenggu hati
Aku mencinta namun benci
Benci bila kamu dekat dengan lain lelaki

Karena kamu dinamika indah kehidupan
Itu yang menjadikan  kamu sangat berkesan
Karena kamu kian melintas tatkala malam
Itu yang menjadikan kamu sangat mendalam
Kamu, kamu yang diingin

Walau semua tampak imaginer